Tentang Saya

Foto saya
Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Sentuhan Berbeda Pengasuhan Ayah dan Ibu

ROSLINA Verauli, M.Psi., dari RS Pondok Indah, Jakarta, menuturkan, baik ayah maupun ibu berperan besar dalam kehidupan anak. Masing-masing dengan keutamaannya memberikan pengaruh positif dalam menjadikan anak sebagai individu yang mandiri dan kompeten. Setiap orangtua membawa sejumlah kualitas pribadi dan berbagai kebutuhan yang kompleks dalam peranannya sebagai orangtua.

Sama halnya seperti anak, orangtua juga memiliki jenis kelamin dan temperamen yang berbeda, sehingga turut memberikan cara-cara yang berbeda dalam pengasuhan. Bahkan lebih jauh, orangtua membawa serta pengalaman masa lalu dan sejumlah nilai budaya yang membentuk apa yang mereka lakukan saat ini.

Meski secara umum ayah dan ibu sama berperannya dalam perkembangan anak, namun "sentuhannya' yang membuat sedikit perbedaan.

Peran Ayah:
1. Menumbuhkan perasaan percaya diri dan kompetensi pada anak melalui kegiatan bermain yang lebih "kasar" dan melibatkan aktivitas fisik, baik di dalam maupun di luar ruang.

Kegiatan yang bermanfaat: berbagai macam aktivitas fisik, seperti olahraga bersama, bermain kejar-kejaran, mengayun-ayun anak dan sebagainya.

2. Menumbuhkan hasrat akan prestasi pada anak melalui kegiatan pengenalan berbagai jenis pekerjaan dan kisah tentang cita-cita.

Kegiatan yang bermanfaat: mengajak anak ke kantor, melihat bagaimana ayahnya bekerja, berdiskusi tentang tokoh-tokoh idola/yang berhasil, dan sebagainya.

3. Mengajarkan tentang peran jenis kelamin laki-laki, bagaimana harus bertindak sebagai laki-laki, dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari laki-laki.

Kegiatan yang bermanfaat: melibatkan anak dalam aktivitas ayah di rumah, seperti membersihkan halaman, membetulkan perabot rusak, memberikan perlindungan pada seisi rumah, dan sebagainya.

Peran ayah seperti tersebut di atas sedikit banyak mendorong anak untuk membuka pintu kesuksesannya. Ayah mendorong anak untuk tumbuh mandiri, percaya diri, berprestasi, bercita-cita tinggi dan seterusnya. (Papalia, Diane., Olds, Sally W, Feldman, Ruth D., Human Development, 11th Ed. USA: McGraw-Hill, 2008)

Tak ada perbedaan yang spesifik pada pengaruh peran ayah terhadap anak laki-laki maupun anak perempuan. Keduanya akan menyerap semua hal yang dilakukan ayah seperti tersebut di atas. Mereka belajar, bermain, menyerap semangat ayah sehingga hal-hal positif yang diharapkan dalam pertumbuhannya dapat terwujud.

Peran Ibu:
1. Menumbuhkan perasaan mencintai dan mengasihi pada anak melalui interaksi yang jauh lebih melibatkan sentuhan fisik dan kasih sayang.

Kegiatan yang bermanfaat: memberikan belaian, pelukan, dan ciuman sayang pada momen-momen kebersamaan dengan anak.

2. Menumbuhkan kemampuan berbahasa pada anak melalui kegiatan-kegiatan bercerita dan mendongeng, serta melalui kegiatan yang lebih intim, yakni berbicara pada anak.

Kegiatan yang bermanfaat: mengajak anak ngobrol, curhat, membacakan dongeng sebelum tidur, dan sebagainya.

3. Mengajarkan peran jenis kelamin perempuan, tentang bagaimana harus bertindak sebagai perempuan dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari seorang perempuan.

Kegiatan yang bermanfaat: melibatkan anak dalam aktivitas ibu di rumah, membantu belanja, memasak, mengurus adik, dan seterusnya.

Sama dengan ayah, tidak ada perbedaan spesifik peran ibu terhadap anak laki-laki atau perempuan. Semua perasaan cinta dan kasih sayang ibu akan diserap oleh anak. Mereka akan belajar bagaimana menjadi perempuan, melihat/memperlakukan perempuan, berbagi cinta dan kasih sayang.

Keteladanan
Baik ayah maupun ibu, keduanya berperan vital dalam tumbuh kembang anak yang optimal. Keduanya harus bekerja sama dan saling melengkapi. Boleh jadi ayah memiliki waktu terbatas, namun itu bukan alasan untuk tidak memberikan perhatian kepada anak.

Nah, agar peran ayah berhasil, maka keteladanan menjadi hal utama. Lewat keteladananlah, anak bisa menjadikan ayahnya sebagai model identifikasi. Tanpa keteladanan, nilai apa pun yang ingin ditanamkan hanya akan sia-sia. I love you, Dad.

Silahkan Anda Baca Juga Artikel Yang Berkaitan Dibawah Berikut Ini



1 komentar:

Cindy,  27 April 2010 pukul 16.50  

Artikel ini sangat bias gender. Saya sangat menyayangkan penuturan dari ROSLINA Verauli, M.Psi. yang menyatakan bahwa kegiatan yang bermanfaat dalam rangka mengajarkan anak tentang peran jenis kelamin laki-laki, bagaimana harus bertindak sebagai laki-laki, dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari laki-laki adalah melibatkan anak dalam aktivitas ayah di rumah, seperti membersihkan halaman, membetulkan perabot rusak, memberikan perlindungan pada seisi rumah, dan sebagainya. Sedangkan untuk sang ibu, ia dapat melibatkan anak dalam aktivitas ibu di rumah, membantu belanja, memasak, mengurus adik, dan seterusnya.

Mungkin masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa banyaknya tindak ketidakadilan pada perempuan berawal dari penanaman nilai oleh orang tua dan anak mengenai peran perempuan dan laki-laki.

Apakah seorang laki-laki tidak dapat memasak dan mengurus adik? Apakah perempuan tidak dapat membersihkan halaman, membetulkan perabot rusak, memberikan perlindungan pada seisi rumah?

Ketika Tuhan menciptakan perempuan dan melengkapinya dengan organ-organ reproduksi, tidak berarti bahwa peran perempuan terbatas pada peran reproduksi! Memang benar bahwa dalam hal tertentu, organ-organ reproduksi tersebut menuntut adanya perbedaan perlakuan antara perempuan dan laki-laki (misalnya melakukan pekerjaan tertentu yang dapat mengganggu fungsi reproduksinya). Tetapi hal tersebut tidak berarti bahwa perempuan harus selalu dibedakan dalam setiap aktivitas, khususnya dalam pekerjaan domestik yang selalu dianggap sebagai peran utama perempuan.

Sudah saatnya semua orang tua, khususnya para orang tua baru, belajar mengenai gender agar ketidakadilan gender tidak terus terjadi.

Terima kasih.

Posting Komentar

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP