Rabu, 18 April 2012

Kerokan: Mengilmiahkan Kearifan Lokal



MESKI ada pengobatan modern, hingga kini orang Indonesia, terutama di Jawa, tetap akrab dengan kerokan saat merasa tidak enak badan. Praktik pengobatan ini dikenal sejak zaman nenek moyang, tetapi sejauh ini belum ditemukan literatur tentang asal-usul kerokan.


Metode semacam kerokan juga dikenal di negara lain, seperti di China (gua sha), Vietnam (cao gio), dan Kamboja (goh kyol).


Seorang Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Prof Didik Gunawan Tamtomo tertarik meneliti mengenai manfaat kerokan. Penelitian itu dilakukan sepanjang tahun 2003-2005.


Kerokan adalah kearifan lokal. Pasien saya menyatakan, kalau belum kerokan, belum puas, kata Didik, awal April di Solo.


Pada tahap awal, Didik melakukan survei kuantitatif dan kualitatif. Hasilnya, dari 390 responden berusia 40 tahun ke atas yang mengembalikan kuesioner, hampir 90 persen mengaku kerokan saat masuk angin. Responden Didik adalah para pasien, tetangga, dan pedagang di pasar. Para responden meyakini manfaat kerokan untuk menyembuhkan masuk angin.


Istilah masuk angin sebenarnya tidak dikenal dalam dunia kedokteran. Masuk angin merujuk pada keadaan perut kembung, kepala pusing, demam ringan, dan otot nyeri.


Kerokan di Indonesia biasanya menggunakan uang logam ataupun alat pipih tumpul yang digerakkan di kulit secara berulang-ulang menggunakan minyak sebagai pelicin.



Tidak merusak

Pada tahap kedua, Didik menjadikan dirinya sebagai obyek penelitian. Ia mengerok bagian tangannya lalu dibiopsi, yaitu diambil sedikit jaringan kulit epidermisnya (kulit ari) untuk pemeriksaan mikroskopis.


Selama ini ada anggapan, orang yang sering dikerok kulitnya akan rusak, pori-pori kulitnya membesar, atau pembuluh darahnya pecah. Namun, hasil pemeriksaan di laboratorium patologi anatomi UNS menunjukkan tidak ada kulit yang rusak ataupun pembuluh darah yang pecah, tetapi pembuluh darah hanya melebar, kata Didik.


Melebarnya pembuluh darah membuat aliran darah lancar dan pasokan oksigen dalam darah bertambah. Kulit ari juga terlepas seperti halnya saat luluran.



Meningkatkan endorfin

Penelitian tahap akhir adalah penelitian biomolekuler, yakni pemeriksaan darah dari orang yang kerokan dan orang yang tidak kerokan. Didik mengumpulkan sejumlah orang dengan kondisi serupa, seperti berat badan, usia, dan mengalami nyeri otot sebagai salah satu ciri masuk angin. Semua responden adalah perempuan karena mereka dinilai lebih suka kerokan daripada laki-laki.


Para responden dibagi dalam dua kelompok dan menjalani pemeriksaan darah. Kelompok pertama kemudian dikerok, sedangkan kelompok kedua tidak. Seluruh responden selanjutnya diperiksa lagi darahnya. Ada empat hal yang diamati, yakni perubahan kadar endorfin, prostaglandin, interleukin, serta komplemen C1 dan C3.


Hasilnya, kadar endorfin orang-orang yang dikerok naik signifikan. Peningkatan endorfin membuat mereka nyaman, rasa sakit hilang, lebih segar, dan bersemangat.


Kadar prostaglandin turun. Prostaglandin adalah senyawa asam lemak yang antara lain berfungsi menstimulasi kontraksi rahim dan otot polos lain serta mampu menurunkan tekanan darah, mengatur sekresi asam lambung, suhu tubuh, dan memengaruhi kerja sejumlah hormon. Di sisi lain, zat ini menyebabkan nyeri otot. Penurunan kadar prostaglandin membuat nyeri otot berkurang.


Adapun perubahan komplemen C3, C1, dan interleukin yang menggambarkan adanya reaksi peradangan tidak signifikan.


Ia menyarankan, kerokan sebaiknya dimulai dari atas ke bawah di sisi kanan dan kiri tulang belakang, dilanjutkan dengan garis-garis menyamping di punggung bagian kiri dan kanan. Alat pengerok dipegang 45 derajat agar saat bergesekan dengan kulit tidak terlalu sakit.


Salah satu unsur dalam kerokan yang mendukung pengobatan adalah hubungan emosional antara orang yang dikerok dan orang yang mengerok. ”Ibu yang mengerok anaknya sambil bercerita merupakan unsur biopsikososial dalam pengobatan yang kini digalakkan dalam pengobatan modern.


Pada intinya, kerokan sebagai kearifan lokal bermanfaat untuk mendapatkan rasa nyaman dan menghilangkan nyeri otot. Namun, seperti halnya obat, tidak baik jika berlebihan.

Obesitas Saat Hamil Berisiko Lahirkan Anak Autisme



Riset para ahli mengindikasikan, ibu hamil yang mengalami gangguan kondisi metabolik seperti obesitas dan diabetes berisiko melahirkan anak penyandang autisme atau gangguan perkembangan saraf.

Penelitian terbaru yang dilakukan para ilmuwan yang berafiliasi dengan UC Davis MIND Institute menemukan bahwa ibu yang obesitas berisiko 67 persen lebih besar melahirkan anak yang menyandang autisme dan berisiko dua kali lipat memiliki anak dengan gangguan perkembangan lain seperti terlambat bicara atau bahkan gagal mencapai tahapan tumbuh kembang sesuai usia.

Sementara ibu penderita diabetes berisiko 2,3 kali lebih besar memiliki anak dengan gangguan perkembangan dibandingkan ibu dengan kondisi sehat. Namun, proporsi ibu dengan diabetes yang memiliki anak autis lebih tinggi ketimbang ibu yang sehat, meski secara statistik tidak terlalu signifikan.

Studi ini juga menemukan, anak penyandang autis dari ibu penderita diabetes lebih mungkin mengalami kecacatan (rendahnya pemahaman bahasa dan komunikasi) - ketimbang anak autis yang lahir dari ibu yang sehat. Namun, anak-anak tanpa autisme yang lahir dari ibu pendeerita diabetes juga rentan mengami gangguan sosialisasi seperti, rendahnya pemahaman dan produksi bahasa, jika dibandingkan dengan anak tanpa autis dari ibu yang sehat.

"Lebih dari sepertiga wanita AS di usia subur mengalami obesitas dan hampir sepersepuluhnya memiliki diabetes gestasional atau tipe 2 selama kehamilan. Temuan kami bahwa kondisi kehamilan kemungkinan berkaitan dengan gangguan perkembangan saraf pada anak perlu mendapat perhatian dan mungkin memiliki dampak serius bagi kesehatan masyarakat," kata Paula Krakowiak, epidemiolog dari UC Davis.

Peneliti berjudul "Maternal metabolic conditions and risk for autism and other neurodevelopmental disorders," ini dipublikasikan secara online dalam jurnal American Academy of Pediatrics.
Peneliti mengklaim bahwa ini adalah studi pertama yang meneliti hubungan antara gangguan perkembangan saraf dan kondisi metabolik ibu hamil, dan tidak terbatas pada penderita diabetes tipe 2 atau diabetes gestasional, termasuk diantarany obesitas dan hipertensi.

Autisme ditandai dengan gangguan dalam interaksi sosial, defisit komunikasi dan perilaku repetitif dan sering disertai dengan cacat intelektual.

Dalam risetnya, penelitian melibatkan 1.004 pasang ibu dan anak dari berbagai latar belakang yang terdaftar dalam Childhood Autism Risk from Genetics and the Environment Study (CHARGE). Kebanyakan dari mereka tinggal di California Utara. Ada 517 anak yang mengalami autisme; 172 dengan gangguan perkembangan lainnya, dan 315 di antaranya normal.

Para peneliti memperoleh informasi mengenai demografis dan kesehatan Ibu serta anak-anak dengan menggunakan studi CHARGE Study Enviromental Exposure Questinnaire. Wanita dianggap diabetes jika kondisi catatan medis menunjukkan mereka mengidap diabetes atau dengan mewawancarai peserta. Begitu pula untuk memperoleh informasi tentang riwayat hipertensi.

Sementara untuk mengkonfirmasi diagnosa perkembangan anak dengan autisme peneliti menggunakan Autism Diagnostic Interview-Revised (ADIR) dan Autism Diagnostic Observation Schedules (ADOS).

Di antara anak yang ibunya menderita diabetes selama kehamilan, studi ini menemukan bahwa persentase anak autis yang lahir dari ibu dengan diabetes tipe 2 atau gestational diabetes sebanyak 9,3 persen, cacat perkembangan (11,6 persen), dan lebih dari 6,4 persen anak lahir autis dari ibu tanpa kondisi metabolik.

Lebih dari 20 persen para ibu dengan obesitas melahirkan anak autis atau cacat perkembangan lainnya, sementara hanya 14 persen ibu tanpa obesitas mengembangkan anak dengan autis.

Sekitar 29 persen dari anak-anak dengan autisme memiliki ibu dengan gangguan kondisi metabolik, dan hampir 35 persen dari anak-anak dengan gangguan perkembangan lain memiliki ibu dengan gangguan kondisi metabolik.

Analisis kemampuan kognitif pada anak-menemukan bahwa, di antara anak autis (anak-anak dari ibu dengan diabetes) mendapatkan hasil tes yang lebih buruk terkait ekspresif, reseptif bahasa dan keterampilan komunikasi dibandingkan dengan anak dari ibu tanpa diabetes.

Para peneli mencatat bahwa obesitas merupakan faktor risiko yang signifikan untuk diabetes dan hipertensi, dan ditandai oleh peningkatan resistensi insulin dan peradangan kronis, seperti diabetes dan hipertensi.

Menurut peneliti, pada ibu penderita diabetes dan kemungkinan kondisi pra-diabetes di masa kehamilan, pengaturan glukosa menjadi sulit diatur sehingga meningkatkan produksi insulin pada janin. Produksi insulin yang tinggi membuat kebutuhan akan oksigen menjadi lebih besar, akibatnya suplai oksigen bagi janin menjadi berkurang. Diabetes juga dapat mengakibatkan kekurangan zat besi pada janin.
"Kedua kondisi ini dapat mempengaruhi perkembangan otak janin," terang peneliti.

Lebih lanjut peneliti mengatakan, peradangan yang terjadi saat masa kehamilan, juga dapat mempengaruhi perkembangan janin. Protein tertentu yang berperan dalam hubungan antarsel yang diproduksi oleh sel-sel sistem kekebalan tubuh dapat melewati plasenta dari ibu ke janin dan mengganggu perkembangan otak.