Kamis, 26 Mei 2011

Posisi Tidur Mana Paling Sehat?

Tidur memang sangat penting artinya bagi kesehatan. Di antara kita sadar betul bahwa kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor yang berkaitan dengan tidur yakni kualitas dan kuantitas.

Tetapi mungkin tak banyak yang sadar bahwa posisi tidur juga turut menentukan kesehatan. Menurut para ahli, sekitar 95 persen manusia selalu tidur dalam posisi yang sama setiap malam. Tak heran, bila dengan posisi tidur yang tak pernah berubah, seseorang dapat memiliki kecenderungan mengalami penyakit tertentu.

Berikut ini adalah plus minus beberapa posisi tidur bagi kesehatan menurut kajian para ahli :

1. Posisi Recovery

Posisi ini disebut dengan posisi pemulihan karena lumrah digunakan dalam kondisi emergensi atau darurat medis. Menurut Professor Jim Horne dari Sleep Research Centre di Loughborough University, Inggris, posisi ini dapat membantu meringankan gangguan pencernaan terutama refluks zat asam (acid reflux) dan melegakan saluran pernafasan.

Kunci utama posisi ini adalah memiringkan tubuh ke sebelah kiri. Sebuah penelitian terhadap penderita heartburn (rasa panas di lambung atau dada) di Graduate Hospital, Philadelphia AS ditemukan bahwa tidur dengan posisi miring kanan membuat asam lambung menjadi lebih lambat mengalir ke esofagus, sehinga mereka yang tidurnya miring ke kanan lebih sering mangalami ketidaknyamanan.

Namun begitu, posisi ini dapat menimbulkan risiko lain, yakni memicu timbulnya keriput atau kerutan di kulit wajah karena salah satu bagian wajah mengalami tekanan.

2. Posisi The Corpse

Tidur pada posisi tengadah atau menempatkan bagian belakang tubuh sebagai tumpuan adalah pilihan yang baik bagi penderita arthtritis dan sakit punggung, kata Sammy Margo, psikoterapis dan penulis buku Good Sleep Guide. Hal ini karena beban atau bobot tubuh terbagi secara rata ke seluruh bagian tanpa memberi tekanan kepada salah satu daerah tubuh tertentu.

Tetapi, posisi ini juga dikenal efek buruknya karena pemicu utama mendengkur atau mengorok. Dr John Shneerson, direktur Sleep Centre di Papworth Hospital Cambridge menjelaskan, posisi ini akan membuat otot-otot rahang dan lidah menjadi rileks. Alhasil, rahang dan tenggorokan menjadi melemah dan terkulai karena pengaruh gravitasi. Kondisi ini membuat tenggorokan menyempit, menimbulkan turbulensi udara yang memicu vibrasi dan dengkuran.

Gangguan tidur serius seperti sleep apnea bisa muncul dari dengkuran ini. Tenggorokan bisa benar-benar tertutup sehingga bisa menghentikan aliran nafas selama sekitar 10 detik atau bahkan lebih.

"Riset menunjukkan bahwa mereka yang tidur pada posisi ini cenderung mengalami penurunan kadar oksigen dalam peredaran darah mereka, yang tentunya menjadi kekhawatiran bagi pasien yang mengidap sakit jantung dan paru-paru," ungkap Dr David Eccleston, dokter ahi masalah tidur dari Birmingham Inggris.

Mereka yang tidur pada posisi ini juga bernafas lebih cepat ketimbang yang tidur dengan posisi lainnya, sehingga jaringan tubuh mereka menjadi kekurangan oksigen (deoxygenated). Hal ini dapat memicu gangguan lainnya seperti asma dan penyakit jantung. Jika posisi ini adalah favorit Anda, pastikan kepala Anda ditopang oleh bantal yang nyaman, kata Dominic Cheetham, seorang chiropractor dari London. Minimnya penopang pada leher dan ruas tulang belakang bagian atas menyebabkan ketegangan pada otot leher dan bahu sehingga bisa memicu rasa sakit.

3. Posisi Foetal

Posisi tidur ini menyamping dengan lutut kaki yang naik atau ditekuk mendekati dada. Posisi ini dapat membantu mengatasi cedera dan sakit pada punggung.

"Selama seharian, tulang belakang dipengaruhi tekanan gravitasi yang membuat banyak tekanan pada diskus - bantalan tulang belakang. Selama tidur, tidak ada tekanan pada punggung. Air dalam tubuh tertarik pada diskus dan membantu pemulihan cedera," ungkap Sammy Margo.

Menurut Sammy, tidur pada posisi foetal adalah ideal karena ketika tubuh melengkung ke arah dalam akan membuka tulang belakang, menurunkan tekanan pada diskus dan meningkatkan pemulihan. Namun Sammy mengingatkan, penting untuk memastikan posisi leher sejajar dengan seluruh tubuh. Dengan kata lain, pastikan bantal tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, karena ini akan menimbulkan ketegangan pada otot dan saraf leher, yang berakibat rasa sakit kepala dan leher di pagi hari.

4. Posisi Spooning

Posisi tidur dengan memeluk pasangan ini dapat meningkatkan kekuatan hubungan, menurut riset yang dipublikasikan oleh ahli saraf dan psikolg Dr James Coan dari AS. Sentuhan fisik saat tidur dapat mengurangi stres baik pada wanita maupun pria. Namun begitu, posisi ini juga bisa membuat tubuh pegal-pegal dan memperburuk rasa sakit otot dan sendi.

"Penting untuk diingat bahwa tubuh Anda terus berubah selama bertahun-tahun. Posisi yang dulu dirasakan nyaman mungkin tidak akan berlaku lagi," papar Sammy.

Posisi tidur menyamping di mana pasangan menempel pada tubuh Anda - baik di depan atau belakang - bisa menyebabkan sakit punggung dan bahu. Sedangkan tidur dengan menindih tangan atau dada pasangan bisa membuat leher tidak sejajar dengan tulang belakang sehingga memicu sakit leher.

5. Posisi Sunbather

Tidur dengan posisi telungkup membantu Anda mencegah dengkuran karena otot tenggorokan tidak akan terkulai akibat pengaruh gravitasi. Namun bila Anda adalah orang yang sering menggertakan gigi saat tidur, posisi ini tidak direkomendasi. Menurut Dr Mani Bhardwaj, dokter gigi dari The Smile Studios di London, saat seseorang tidur dengan posisi telungkup posisi rahang bawah akan lebih maju ke depan dibandingkan posisi normal. Ini berarti bagi mereka yang suka menggertak-gertakan gigi akan timbul tekanan lebih besar pada bagian gigi bawah yang bisa berujung pada kerusakan signifikan.

Selain itu, posisi ini juga berpotensi menimbulkan gangguan saraf pada tubuh bagian atas. "Ketika Anda telungkup, terlalu banyak atau terlalu sedikit bantal memengaruhi posisi leher dan dan membuanya tidak sejajar dengan tulang belakang. Ini akan meningkatkan kemungkinan kompresi saraf, khususnya pada orang dengan usia lanjut," kata Dr Eccleston.

Anda juga harus memutar leher ke kiri atau ke kanan, yang menyebabkan ketegangan pada salah satu sisi. Kompresi saraf terjadi ketika ruas tulang-tulang belakang menekan saraf pada bagian leher. Risiko dari kondisi ini akan meningkat ketika tulang belakang mengalami arthritis seiring bertambahnya usia.

Dr Eccleston merekommendasikan penggunaan kasur berbahan busa latex atau kasur pegas karena jenis ini dapat menyesuaikan dengan bentuk tubuh Anda dan menyediakan perlidungan dan penopang cukup ideal bagi tulang belakang.

Gemar Berbohong Bikin Darah Tinggi



Apakah bedanya berbohong dan tidak memberitahukan? Berbohong, mungkin, artinya Anda mengatakan sesuatu yang tidak seperti kenyataannya. Tidak memberitahukan, artinya Anda menyimpan sendiri informasi yang mungkin menyangkut sesuatu yang buruk mengenai orang lain.


Apapun bedanya, kedua hal ini memberikan pengaruh yang sama pada orang yang menerima informasi. Dari sisi orang yang berbohong, ia mungkin akan merasa bersalah, karena tidak memberitahukan seorang teman bahwa suaminya berselingkuh, misalnya. Untuk orang yang tidak bersedia berbohong, rasa tidak nyaman itu mungkin lebih besar daripada perasaan diduakan pasangan.

Tak salah jika Anda merasakan hal ini. Bagi seorang pemula, berbohong akan melepaskan hormon stres. "Peningkatan hormon stres ini bisa menyebabkan detak jantung dan pernafasan meningkat, pencernaan melambat, otot dan serat-serat saraf menjadi hipersensitif," ungkap Saundra Dalton-Smith, MD, penulis Set Free to Live Free: Breaking Through the 7 Lies Women Tell Themselves.

Gejala fisik ini mungkin tidak separah yang dibayangkan, namun bila terus terjadi, hal ini bisa menimbulkan kondisi seperti penyakit arteri koroner, stroke, dan gagal jantung kongestif. Sebab, pada saat berbohong tekanan darah naik ke jantung, dan bisa mengancam hidup Anda dalam jangka panjang. Itu pula sebabnya lie detector sangat akurat untuk uji kebohongan, karena alat ini mengukur lompatan dalam tekanan darah.

Masih diragukan sebenarnya, bahwa satu contoh kebohongan bisa menyebabkan Anda stroke. Namun ada bukti-bukti bahwa semakin sering Anda berbohong, semakin mudah Anda berbohong dalam kesempatan lain. Hal ini sesuai dengan artikel yang diterbitkan di jurnal Consciousness and Cognition edisi November 2010 oleh fakultas psikologi Ghent University di Belgia, “Sering menyampaikan kebenaran membuat berbohong makin sulit, dan sering berbohong membuat berbohong makin mudah."

Mereka yang sehari-hari suka berbohong, atau menyimpan rahasia besar selama bertahun-tahun, mungkin merasa mudah melakukannya dari waktu ke waktu. Namun mereka juga lebih berisiko mengalami kondisi kesehatan yang buruk daripada yang lain. Pembohong yang kronis akan meningkatkan komplikasi dari tekanan darah tinggi, dan penyakit lain yang dikaitkan dengan stres yang kronis, seperti kanker, diabetes, dan penyakit jantung.

Mungkin Anda menyembunyikan sesuatu dari keluarga atau teman Anda karena tak ingin mereka terluka. Namun Anda bisa menyakiti hati orang tersebut bila rahasia itu terungkap dan ia tak mampu menerimanya. Jangan lupa, seperti yang sering dikatakan orang, kita cenderung akan berbohong untuk menutupi kebohongan yang lain. Sudah berdosa, penyakit pun menumpuk di tubuh kita. Maka, bersikap jujur adalah hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk kesehatan badan dan pikiran Anda sendiri.

Kamis, 05 Mei 2011

Mencegah 3 Penyakit Paling Ditakuti

Salah satu kekhawatiran kebanyakan orang adalah sakit. Tetapi hanya sedikit orang yang mau mengubah pola hidupnya agar kekhawatirannya itu tidak terbukti. Simak saran para ahli agar penyakit menjauh dari hidup kita.

Serangan jantung

- Pola makan sehat. Hindari makanan yang bersodium tinggi (termasuk makanan siap saji) untuk menjaga tekanan darah. Hindari lemak jenuh dan lemak trans karena bisa meningkatkan kolesterol. Konsumsi lebih banyak ikan dan kacang-kacangan karena mengandung minyak sehat yang baik untuk pembuluh darah.

- Rawat gigi Anda. Penelitian menunjukkan gigi berlubang dan radang gusi bisa menjadi indikator kesehatan jantung.

- Berhenti merokok karena perokok beresiko dua kali lebih tinggi menderita penyakit jantung koroner.

Impotensi

- Lakukan tips di atas. Jika sirkulasi darah yang menuju jantung tidak lancar, demikian juga halnya sirkulasi yang menuju penis.

- Tidur yang cukup untuk meningkatkan hormon pertumbuhan yang bisa mencegah impotensi.

- Olahraga. Penelitian menunjukkan pria yang membakar minimal 200 kalori setiap hari lebih jarang mengalami disfungsi ereksi dibanding rekan mereka yang lebih malas.

Pikun

- Cobalah sesuatu yang baru, misalnya mencoba rute berangkat ke kantor yang berbeda atau mencoba belajar squash. Mengubah rutinitas bisa merangsang sambungan neuron otak untuk mencegah kepikunan.

- Turunkan kolesterol karena kolesterol memegang peran penting terbentuknya plak di otak, penanda penyakit Alzheimer.

- Konsumsi omega-3, asam lemak yang ditemukan di ikan dan kacang-kacangan.

Fakta dan Mitos Tentang Gigi Berlubang

Mari periksa fakta dan mitos di bawah ini, untuk mengetahui bagaimana gigi berlubang bisa terjadi, cara mengatasi dan mencegahnya. Agar kita bisa membedakan fakta dengan mitos dengan benar, Kimberly A. Harms, DDS, mantan presiden dari Minnesota Dental Association, akan langsung memandu kita.

# Gula adalah faktor penyebab gigi berlubang paling utama.
Fakta : Dalam kenyataannya, asam diproduksi oleh bakteri di dalam mulut dan menyebabkan gigi berlubang, ujar Harms. Lalu, apa yang sebenarnya bakteri lakukan di dalam mulut kita? Mengonsumsi karbohidrat, dan gula termasuk di dalamnya. Nasi, kentang, roti, buah, dan sayuran juga merupakan karbohidrat. Ketika kita mengonsumsi apapun yang mengandung karbohidrat, maka bakteri di dalam mulut kita akan aktif dan memproduksi asam serta merusak gigi kita.

Kemudian bakteri akan memiliki satu tempat kecil yang nyaman untuk hidup dan memproduksi asam, dan biasa tempatnya sulit dijangkau oleh sikat gigi dan benang floss. Jika dibiarkan bakteri akan melanjutkan metabolisme karbohidrat serta memproduksi asam. Dan akhirnya, gigi berlubang kita menjadi semakin membesar hingga kemudian menjadi sangat menyakitkan.

Mitos : Sebenarnya yang menjadi penyebab gigi berlubang, bukanlah jumlah karbohidrat yang kita makan,melainkan lama waktu gigi kita terpapar oleh karbohidrat tersebut. Jadi, jangan biarkan hari kita diisi dengan makan dan minum makanan mengandung gula secara terus menerus.

# Paparan makanan asam dapat menyebabkan kerusakan gigi.
Fakta: Asupan makan asam, seperti lemon, jus sitrus, atau minuman ringan tidak menyebabkan gigi berlubang, namun menempatkan email gigi kita dalam bahaya. Asam akan memicu terjadinya erosi pada email gigi yang bertugas sebagi lapisan pelindung gigi. Ketika kita kehilangan perlindungan dari email gigi dan terpapar hingga pusat dentin, maka gigi menjadi lebih rentan rusak.

# Kita akan tahu kalau gigi kita sedang berlubang.
Mitos : Gigi berlubang ringan tidak memberikan gejala apa-apa. Rasa sakit yang kita alami saat sakit gigi datang sebenarnya mengindikasikan kerusakan sudah masuk tahap parah dan menyebabkan kerusakan pada saraf.

Membiarkan gigi berlubang tidak terobati terus menerus, hanya akan memperburuk rasa nyeri dan semakin mahal biaya yang harus kita keluarkan untuk memperbaikinya. Cara yang paling mudah untuk mencegah hal ini, adalah dengan melakukan pemeriksaan gigi secara rutin 6 bulan sekali. Perlu ditekankan, sekali gigi mulai berlubang, maka gigi tidak bisa memperbaikinya sendiri. Malah akan terus berkembang dan memperburuk. Jadi, lebih cepat lebih baik.

# Tidak perlu khawatir masalah gigi berlubang pada gigi susu.
Mitos : Gigi susu akan menyediakan ruang untuk tumbuhnya gigi permanen. Jika masalah gigi berlubang pada gigi susu kita biarkan, maka kondisi ini akan terus berkembang ke masalah yang serius hingga infeksi. Dan infeksi bisa menyebar ke daerah tubuh yang lain dan bisa menjadi pemicu terjadi berbagai penyakit serius seperti jantung. Oleh karena itu, jagalah kesehatan dan kebersihan gigi sejak sedini mungkin.

# Menggosok gigi merupakan cara terbaik untuk mencegah gigi berlubang.
Fakta : Pencegahan adalah kunci utamanya. Kita pelu membersihkan bakteri dari gigi dengan menyikat gigi secara rutin dua kali sehari (sesudah sarapan dan sebelum tidur) dengan menggunakan pasta gigi mengandung fluoride. Dengan membuat gigi kita selalu dalam kondisi bersih setiap hari, maka masalah gigi berlubang pun bisa diatasi.

Pola Tidur Pengaruhi Pertumbuhan Bayi

Bayi baru lahir memang memiliki jam tidur yang tidak teratur. Sebagian besar waktunya didominasi oleh tidur, tetapi terkadang kebiasan tidurnya mendadak berubah sehingga orangtua kesulitan mengikutinya.

Pola tidur bayi baru lahir yang sering berubah-ubah tersebut ternyata sangat berkaitan dengan growth spurt (percepatan pertumbuhan) yang dialami bayi di usia 2 minggu, 4 minggu, 3 bulan dan 6 bulan.

Michelle Lampl, profesor antropologi dari Emory University dan timnya melakukan penelitian mengenai hal tersebut dengan melibatkan 23 pasang orangtua. Para orangtua yang baru memiliki bayi baru lahir ini diminta membuat catatan kebiasan tidur bayi mereka.

Data yang ditulis meliputi jam tidur bayi dan kebiasaan bangun, termasuk juga keterangan apakah bayi diberikan ASI atau susu formula, serta kesehatan bayi secara umum misalnya ada tidaknya gejala demam, diare, mual, atau gatal-gatal. Pencatatan ini dilakukan selama 4-17 minggu.

Kemudian para peneliti mengukur tinggi badan bayi-bayi itu setiap hari atau dua kali dalam seminggu. Lalu data pertumbuhan bayi itu diuji silang dengan pola tidur bayi yang sudah dicatat para orangtua.

Para peneliti menemukan ketika pola tidur bayi berubah, misalnya lebih banyak tidur siang atau tidur lebih lama dari biasanya, akan diikuti dengan growth spurt. Secara spesifik bayi mengalami percepatan pertumbuhan 43 persen untuk setiap tambahan waktu tidur siang yang dilakukan, dan 20 persen pertumbuhan untuk tambahan satu jam tidur pada saat puncak waktu tidur mereka. Rata-rata bayi mengalami pertumbuhan pada 4,5 jam waktu tidur setiap hari dan tiga kali tambahan tidur siang.

Selain bertambah tinggi, bayi yang tidur lebih lama juga bertambah berat badannya. "Hasil riset ini menunjukkan secara empirik percepatan pertumbuhan bukan cuma terjadi ketika tidur tapi sangat dipengaruhi oleh pola tidur," kata Lampl.

Bayi laki-laki cenderung tidur siang lebih sering dibanding bayi perempuan. Bayi yang mendapat ASI juga diketahui tidur siang lebih singkat dan lebih sering dibanding bayi yang diberi susu formula.