Minggu, 28 November 2010

4 Rahasia Orang yang Jarang Sakit



Di antara rekan-rekan kerja Anda, pasti ada orang yang sering sakit. Entah itu flu, diare, meriang, maag, atau apalah.... Rasanya sakit menjadi salah satu sahabatnya. Tetapi, ada juga orang yang terlihat selalu fit dan tak pernah sakit. Ia tidak pernah masuk angin, bersin, atau radang tenggorokan. Orang ini tak pernah absen selama masa kerjanya yang 10 tahun. Pasti Anda ingin tahu apa resepnya agar selalu fit.

Dalam bukunya, The Secrets of People Who Never Get Sick, Gene Stone memaparkan hasil risetnya mengenai apa yang menyebabkan seseorang bisa selalu sehat. Menurutnya, ada beberapa hal mengejutkan yang bisa kita lakukan untuk mengusir penyakit dan infeksi.

1. Mandi air dingin
Banyak orang yang takut mandi air dingin, bahkan khawatir akan gampang masuk angin bila mandi tanpa air hangat. Tetapi, menurut Stone, penelitian menunjukkan bahwa mandi air dingin bisa membantu meningkatkan jumlah sel-sel darah putih. Sel-sel darah putih ini bisa membantu mengusir penyakit dari tubuh Anda.

2. Mengunyah bawang putih mentah
Pilih mana, napas Anda dibilang bau bawang atau sehat? Sekali lagi Stone menunjukkan hasil penelitian, di mana bawang putih disebut memiliki senyawa antimikroba yang kuat, yang bisa membantu Anda tetap sehat. Agar napas Anda tidak terlalu beraroma bawang putih, geprek bawang lebih dulu, lalu telan semuanya dengan menggunakan satu sendok teh saus apel.

3. Minum air panas yang diberi ragi bir
Seperti apa rasanya? Hm... perlukah dibahas lebih lanjut? Yang pasti, ramuan ini telah terbukti mampu mengusir virus influenza, diare, dan infeksi saluran pernapasan.

4. Hanya minum minuman panas
Misalnya, air hangat yang diberi perasan jeruk, teh, kopi, atau apa pun yang disajikan hangat atau panas. Minum lebih banyak cairan panas selama musim flu bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda.

Selasa, 02 November 2010

"Kerokan" Mampu Kembalikan Keseimbangan Individu


Kerokan" yang biasa dilakukan orang Jawa dipercaya mampu mengembalikan keseimbangan individu, baik fisik maupun metafisik, kata antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Atik Triratnawati.

"Dalam mengatasi masuk angin, orang Jawa menggunakan cara kerokan sebagai penyembuhan holistik, yakni berusaha mengembalikan keseimbangan jagad gedhe (makrokosmos) maupun jagad cilik (mikrokosmos). Artinya, manusia berusaha memperbaiki relasi sosial, baik dengan sesama, lingkungan maupun Tuhan," katanya, di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia dalam diskusi "Masuk Angin: Konsep Jawa Versus Modern dan Implikasi Pengobatannya", penyembuhan holistik melihat manusia secara lengkap. Artinya, pasien bukan hanya sekadar tampilan jasad yang harus dibebaskan dari bakteri maupun penyakit fisik lainnya, melainkan lebih dari itu.

"Dalam pengobatan holistik tidak hanya individu yang diperlakukan secara pribadi, tetapi juga ada unsur merawat, karena individu yang tidak mampu merawat diri sendiri, dibantu orang lain. Dalam hal ini kasih sayang akan muncul," katanya.

Ia mengatakan "kerokan" juga mengandung unsur tolong menolong. Meskipun penderita mampu mengerok diri sendiri, ada bagian tubuh tertentu yang harus dikerok oleh orang lain, karena keterbatasan jangkauan tangan manusia.

"Kerokan menunjukkan sifat tolong menolong antarsesama, saat ini diminta mengerok, lain kali ganti akan meminta dikerok. Hal ini menunjukkan bahwa bagi orang Jawa hidup itu tidak mungkin tanpa bantuan orang lain," katanya.

Bahkan, menurut dia, pascapengobatan, perilaku orang Jawa akan berubah lebih pasrah dan sabar atas apa yang akan terjadi, baik kesembuhan maupun ketidaksembuhan. Dengan rasa sugesti yang kuat atas penyembuhan yang mereka lakukan, mampu mempercepat proses kesembuhan.

Ia mengatakan bagi orang Jawa masuk angin telah dianggap sebagai gangguan kesehatan yang sifatnya biasa atau lumrah, bahkan sering dianggap sebagai penyakit harian.

Pemahaman konsep Jawa mengenai masuk angin selalu terkait dengan yang masuk ke dalam tubuh, sehingga seluruh tubuh menjadi dingin.

Angin yang bersifat dingin tersebut jika terdapat dalam jumlah yang tidak seimbang akan menimbulkan gangguan kesehatan. Teori penyebab penyakit ini pun muncul lebih didasarkan pada naturalistik daripada personalistik.

"Bagi orang awam masuk angin dianggap terjadi karena kehujanan, perut kosong, atau pencernaan kurang beres. Namun, bagi orang Jawa justru berbeda, dapat berupa fisik maupun mental bahkan keduanya," katanya.

Hal itu berbeda dengan kalangan medis, yang menganggap masuk angin hanya kumpulan gejala seperti flu, atau penyakit lainnya, sehingga penyembuhannya cenderung menekankan pada aspek klinis yang mandiri dan terpisah dari unsur budaya.

"Untuk angin duduk, kalangan medis menganggap sebagai gangguan pembuluh darah yang jika dibiarkan bisa menjadi serangan jantung," katanya.