Minggu, 24 Januari 2010

Usia-usia Pernikahan Rentan Masalah

Menurut Tiwin Herman, M.Psi, pernikahan adalah komitmen dari sepasang insan untuk saling menyesuaikan diri secara terus-menerus. Serangkaian konflik yang khas, biasanya, muncul di tahun-tahun tertentu pernikahan. Keterampilan menyelesaikan masalah akan semakin memperkuat hubungan suami-istri. Berikut masa-masa rentan itu dan cara menghadapinya.

Di Bawah 5 Tahun
Tahun-tahun pertama pernikahan merupakan masa yang sangat riskan. Hal ini disebabkan oleh proses penyesuaian diri yang terhambat. Banyak istri atau suami yang mengeluh bahwa sifat dan sikap pasangannya berubah setelah menikah, tidak seperti saat pacaran.

Dalam proses ini, karena usia pernikahan masih baru, toleransi antarpasangan masih sangat tinggi. Jika di masa ini sudah mulai ada maslah yang tidak terselesaikan dan menyebabkan komunikasi berjalan tidak lancar, pasangan suami istri biasanya merasa tidak puas. Masalah-masalah baru pun akan bermunculan bila ketidakpuasan tersebut tidak diungkapkan.

Tahun kedua pernikahan dan selanjutnya peran suami istri berganti menjadi orangtua, seiring lahirnya anak pertama. Dengan peran baru sebagai orangtua, pasangan harus mempelajari banyak hal, termasuk bagaimana menjadi mitra yang baik dalam membesarkan anak.

Cara Menghadapi: Pada masa ini, watak asli pasangan mulai muncul. Meski telah melalui proses pacaran, pernikahan selalu diawali dengan kejutan-kejutan kecil seputar sifat atau kebiasaan pasangan. Setiap pasangan seharusnya saling memahami kondisi ini. Mereka juga dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk saling mengenal lebih dalam lagi, baik secara fisik, emosi, kebiasaan, minat, hobi, dan lain-lain.

Soal cara mendidik anak, latar belakang keluarga yang berbeda, umumnya, berdampak pada pola pengasuhan anak. Diperlukan kebesaran hati untuk bisa memadukan kedua pola asuh yang berbeda atau merumuskan sendiri pola asuh yang pas. Masalah keuangan pun demikian. Karena urusan keuangan sangat sensitif, pembagian peran dalam keuangan keluarga harus jelas sejak awal pernikahan.

Di Atas 20 Tahun
Masa rentan yang dihadapi pada usia pernikahan di atas 20 tahun lebih disebabkan oleh toleransi yang sudah mulai berkurang. Perpisahan pada masa ini, biasanya, karena memang sudah ada masalah pada awal pernikahan namun mereka memilih bertahan dengan berbagai alasan normatif, misalnya: takut mengecewakan keluarga atau dicemooh masyarakat. Namun, alasan yang paling klasik adalah anak-anak. Akhirnya, ketika anak-anak sudah jalan cukup dewasa dan mandiri, jalan perpisahan pun diambil.

Kasus lain yang saat ini juga banyak adalah karena pasangan bermain api dengan orang lain. Hal itu terjadi karena tingkat kejenuhan yang sudah akut. Selama berpuluh-puluh tahun, Anda dan pasangan menjalani hidup berdua tanpa variasi. Di samping itu, usia tua memang biasanya membuat seseorang menjadi lebih sensitif. Sikap sensitif tersebut bisa berwujud rasa terabaikan atau merasa tidak dihargai lagi. Hal ini membuat pasangan menajdi tidak tahan serta frustasi dan memilih untuk berpisah.

Cara Menghadapi: Saat akan memasuki masa ini, ajaklah pasangan untuk berbicara dari hati ke hati. Tanyakan bagaimana perasaan dan gairah cinta mereka. Bila sudah merasa hambar, Anda dan pasangan harus mendiskusikan cara untuk menghidupkan kembali api cinta kalian. Definisikan kembali tujuan pernikahan Anda. Kemukakanlah hal-hal yang paling disukai dan dibenci dari masing-masing pasangan. Kemudian, berintrospeksilah dan perbaiki diri sesuai harapan masing-masing.

Tanyakan juga padanya kekecewaan yang selama ini dirasakannya dan perubahan apa yang paling diinginkannya dari diri Anda. Dengarkanlah tanpa harus bersikap reaktif. Pahami pola pikirnya dan ekspresikan rasa empati Anda. Dengan begitu, pasangan akan bersikap sama dan rumah tangga yang hambar akan kembali hidup.

Bantuan Pihak Ketiga
Meski usia pernikahan saat ini tidak termasuk yang rentan masalah, bukan berarti Anda "bebas" dari masalah. Sudah pasti setiap rumah tangga mempunyai konflik. Yang perlu dicatat, konflik atau masalah itu harus dihadapi. Bila Anda menghindari konflik atau berpura-pura tidak terjadi apa-apa, hal tersebut hanya akan membuat "api dalam sekam". Bila dirasa perlu, Anda boleh menggunakan pihak ketiga, yaitu orangtua, mertua, pemuka agama, atau konsultan pernikahan.

Selain itu, tak ada salahnya bila Anda dan pasangan bertukar pikiran pada orangtua atau pasangan yang berhasil membina rumah tangganya. Tanyakan dan pelajarilah resep pernikahan mereka sehingga dapat bertahan lama.

Senin, 18 Januari 2010

Doa Kami


Ya Allah..
Andai Kau berkenan..
Limpahkanlah kepada kami cinta yang Kau jadikan pengikat rindu Muhammad dan Khadijah.. Yang kau jadikan air mata kasih sayang Ali dan Fathimah..
Yang kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci..

Ya Allah..
Andai semua itu tak layak bagi kami
Maka tunjukan dan bimbing kami menuju kepada yang terbaik..
Dan cukupkanlah permohonan kami dengan ridha-Mu
Jadikanlah kami sepasang kekasih yang saling mencintai dikala dekat
Saling menjaga kehormatan dikala jauh,
Saling menghibur dikala duka,
Saling mengingatkan dikala bahagia,
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan,
juga saling menyempurnakan dalam peribadatan

Ya Allah...... sempurnakanlah kabahagian kami dengan menjadikan ikatan pernikahan yang akan terbina diantara kami sebagai ibadah kepada-Mu dan bukti pengikut dan cinta kami kepada sunnah keluarga Rasul-Mu...Amin Ya Rabbal Alamin

Minggu, 17 Januari 2010

Bayi Hilang Di Ambil Makhluk Halus



JANGAN tidur sore-sore! Siapkan gunting, benang, dan jarum di balik bantal saat tidur malam. Jangan lupa pula mendirikan sapu secara terbalik di samping pintu rumah. Ini semua, menurut penuturan orang tua zaman dulu untuk menjaga keselamatan bayi yang baru lahir. Agar si jabang bayi tidak diculik oleh mahluk halus.

Jadi jangan heran, sampai sekarangnya masih ada sebagian ibu-ibu yang mempercayai akan 'ular-ular' (pesan) dari nenek moyang itu. Bagi keluarga baru yang saja punya momongan, maka ayah dan ibu selalu setia menjagai bayinya. Kelahiranya si kecil itu selalu membawa aura kasih, ketulusan dan kecintaan untuk membesarkan untuk melanjutkan keturunan sebagai tututan alam bawah sadar setiap insan manusia.

Di zaman sekarang, bayi-bayi yang baru saja lahir meski dijagai dengan pelbagai macam syarat di atas tampaknya bisa saja tetap hilang. Ya, itu tadi pencurinya bukan mahluk bunian, gondoruwo, wewe gombel atau seten alas yang lagi gentayangan, melainkan dicuri oleh sindikat khusus pencuri bayi. Bukan mahluk halus, melainkan mahluk kasar bernama manusia.

Ini bukan kisah bohongan, benar-benar terjadi di Rumah Sakit Umum (RSUD) Semarang, menimpa seorang ibu bernama Dwi Sulistyowati. Ia tak pernah membayangkan, bayi yang ia kandung selama sembilan bulan harus hilang. Peristiwa terjadi 22 Oktober 2009, hanya dua hari setelah persalinan secara caesar 20 Oktober 2009. Bayi bernama Muhammad Zain Fazza Azahra hilang dari ruangan perawatan bayi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Semarang.

Hanya rekaman wajah sang bayi mungil, Zain, yang tinggal di kepalanya, menghibur keseharian Dwi. Dalam duka itu, Dwi masih berpikir logis untuk mencari perlindungan ke Komnas Anak dan kembali bertutur kepada pers, Sabtu (9/1/2010), tentang kronologis kejadiannya.

Pada 22 Oktober sore, ada seorang perawat menyuruhnya latihan berdiri dan duduk pasca-caesar. Perawat itu mengatakan akan memandikan bayinya. Seolah sudah terasa, Dwi gundah. Seusai berlatih, ia menanyakan bayinya itu kepada perawat. "Saat itu, perasaan saya sudah tidak enak," katanya. Dwi pun segera keluar dari kamar dan mencarinya ke luar. Di lorong ruangan perawatan bayi itulah ditemukan boks tidur bayinya yang sudah kosong. Di dalam boks cuma tertinggal pakaian ganti putranya.

Bedong atau kain gendong anaknya sudah tak ada lagi. Sedangkan handuk dan bedak dibawa-bawa oleh si perawat. Ketika ditanyakan, para perawat hanya meminta Dwi bersabar. Namun, bagaimana bisa tenang, katanya. Malam itu juga, Dwi melapor ke Polres Semarang Selatan bersama suaminya, Muhammad Yahron.

Celakanya, pihak rumah sakit dan perawat di RSUD Semarang seoah tak bertanggung jawab atas hilangnya si jabang bayi. Malahan yang muncul adalah humas rumah sakit bernama Niken, yang berusaha keras membujuk si ibu agar menerima uang santunan Rp 50 juta kepada sang ibu. Ia menolah atas tawaran dengan uang damai itu. Ia tetap menginginkan untuk menggendong bayinya itu.

Hanya saja, setelah lebih dari dua bulan berjuang untuk mendapatkan kembali bayinya itu, Ibu Dwi belum kesampaian samapai saat ini. Laporan kepada polisi dan usaha untuk mendapatkan bayinya itu sampai saat ini masih nihil alias hampa belum ada titik terangan sama sekali.

Persitiwa serupa terulang kembali! Bukan di RSUD Semarang, melainkan di Puskesmas Kembangam, Joglo, Jakarta, Jumat (8/1) lalu. Ny Muratni, ibu si jabang bayi yang akan diberi nama Putra yang lahir dengan berat badan 3.3 kg. Kini Ny Muratni nekat tetap berdiam di Puskesmas itu sampai bayinya ditemukan.

Penculiknmya tak lain adalah seorang perempuan berjilbab yang berpura-pura sebagai tenaga kesehatan di puskesamas itu. Sampai saat ini bayi itu raih, entah dibawa kemana oleh si pelaku.
Melihat gejala semacam itu, tampaknya bertambah lagi tugas aparat kepolisian. Harus makin waspada.

Kewaspadaan pun sudah dilakukan, misalnya di RS Restu Ibu Balikpapan, setiap pukul 22.00, ada petugas dari kepolisian masuk ruang-ruang pasien dirawat sekadar mengingatkan agar pasien dan keluarganya menyimpan di tempat paling aman untuk barang-barang berharga berupa gelang, kalung, cincin, dompet atau tas.

Aparat kepolisian sudah selayaknya meningkatkan penjagaan di rumah-rumah sakit atau puskesmas, petugas intel perlu disebar melakukan pengamatan dan pengintaian untuk mencegah terulang lagi kasus pencurian bayi.

Zaman serba sulit dan manusia sudah makin gelap mata untuk bisa mendapatkan uang dengan cara apa saja. Penjahat tak segan-segan bila gagal mendapatkan harta benda, maka 'manusia' pun disikatnya pula.

Bapak, ibu, keluarga atau siapapun yang masih menyayangi bayi dan anak-anak jangan sampai lengah. Selalu waspada. Anak-anak adalah masa depan dan generasi penerus kita, jangan sia-siakan mereka!

Sabtu, 09 Januari 2010

Mengapa ASI Tak Langsung Keluar?

RASANYA sudah banyak ibu yang paham bahwa air susu ibu alias ASI merupakan makanan yang sempurna bagi bayi. Kebahagiaan dan kebanggaan tidak terkira dirasakan ibu jika berhasil menyusui bayinya, terutama pada anak pertama.

Namun bagi sebagian ibu memberi ASI ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Tidak semua ibu beruntung ASI-nya langsung keluar setelah melahirkan. Bahkan, pada ibu yang baru pertama kali memiliki anak seringkali ASI baru keluar dua hingga tiga hari pasca persalinan. Dalam masa itu, terpaksa bayi diberi susu formula karena khawatir bayi kelaparan.

"ASI yang tak langsung keluar setelah melahirkan adalah hal yang wajar. Karena itu ibu harus memancing, misalnya dengan melakukan pemijatan, membersihkan puting, serta sering-sering menyusui bayi meski ASI belum keluar," kata dr.Tejowati Putri dari Jakarta Breastfeeding Center (JBFC).

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Acta Obstetricia and Gynacologica Scandinavica baru-baru ini menyebutkan tingginya kadar hormon testosteron selama kehamilan bisa menyebabkan kesulitan dalam pemberian ASI.

Menurut dokter Putri, pada sebagian ibu mungkin saja terjadi kesulitan pengeluaran ASI, namun ia menyatakan lebih banyak ibu yang terpengaruh mitos sehingga tak yakin bisa memberikan ASI. "Banyak sedikitnya ASI yang diproduksi ibu sangat tergantung dari kondisi emosi dan motivasi ibu," katanya.

Menyusui sebenarnya adalah suatu proses yang terjadi secara alami. Jadi, jarang sekali ada ibu yang gagal atau tidak mampu menyusui bayinya. Meski begitu, menyusui juga perlu dipelajari, terutama oleh ibu yang baru pertama kali memiliki anak agar tahu cara menyusui yang benar.

Kualitas dan kuantitas produksi ASI juga perlu dijaga agar perkembangan fisik dan mental bayi bisa optimal. Caranya, antara lain dengan mengonsumsi makanan bergizi, minum cukup cairan, cukup istirahat dan sering menyusui, serta memijat payudara.

Peluang memberikan ASI pada hari-hari awal kehidupan bayi juga bisa ditingkatkan dengan proses inisiasi menyusu dini. Pada proses ini bayi dibiarkan mencari puting susu ibu sendiri. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut. Jika perlu, ibu boleh mendekatkan bayi pada puting.

Sentuhan dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang keluarnya oksitosin yang penting untuk menyebabkan rahim berkontraksi sehingga membantu pengeluaran plaenta dan mengurangi perdarahan pada ibu. Sentuhan itu juga merangsang hormon lain yang membuat ibu jadi tenang, relaks dan mencintai bayi, serta merangsang pengaliran ASI dari payudara.